Cara Mudah Menghitung BEP (Break Even Point) Dengan Benar

Agar bisnis yang dijalankan dapat berjalan dengan lancar, seseorang harus mengerti mengenai untung dan ruginya. Untung atau yang biasa disebut dengan laba akan diperoleh seseorang jika pendapatannya lebih besar dibandingkan dengan seluruh biaya produksi. 
Untuk kerugikan sendiri akan terjadi jika pendapatan yang diperoleh tidak dapat menutupi biaya produksi atau modal awal yang sudah dikeluarkan. Untuk mengantisipasi agar pebisnis tidak mengalami kerugian, maka penting untuk mengenal Break even point atau disingkat BEP. 

freepik.com/freepik


Sebuah kondisi yang seimbang antara jumlah pengeluaran untuk produksi dengan pendapatan hasil penjualan yang diterima adalah pengertian dari Break-even point atau BEP. Oleh karena itu BEP juga disebut titik impas yang menyebabkan sebuah perusahaan tidak akan mendapatkan keuntungan ataupun kerugian.


Kelebihan Mengitung Break-even Point

Salah satu yang menjadi kelebihan mengitung Break-even Point atau BEP adalah untuk meminimalisir kerugikan yang akan didapatkan. Karena dengan menghitung BEP pebisnis dapat memperkirakan harga jual minimal agar tidak rugi. 
Bandingkan jika sebelumnya tidak menghitung BEP, akan ada kemungkinan harga yang diberikan ke pembeli terlalu rendah sehingga hasil pendapatan dari penjualan tidak dapat menutupi biaya produksi. Selain itu, dengan menghitung BEP dan memperkirakan harga dan keuntungannya maka pebisnis dapat memperkirakan jumlah produk yang harus dikeluarkan agar biaya produksi dapat tertutupi. 

Menghitung BEP ini akan sangat bermanfaat bagi pebisnis yang baru saja memulai usahanya karena sebagian besar masih bingung menentukan harga jual dan memperkirakan keuntungannya. Oleh karena itu penting untuk mempelajari menghitung BEP sebelum memulai usaha apalagi untuk pemula. 


Unsur Pembentuk Break-even

Untuk dapat menghitung BEP atau Break-even point, ada baiknya untuk mengenal unsur-unsur apa saja yang membentuknya. Berikut adalah unsur-unsur dalam Break-even point.

1. Biaya Tetap (Fixed Cost)

Unsur yang pertama adalah biaya tetap atau fixed cost. Biaya ini merupakan biaya yang wajib atau harus dikeluarkan oleh pebisnis. Meskipun produksi berjalan atau tidak, biaya tetap ini harus tetap dikeluarkan contohnya seperti biaya sewa gedung, biaya penyusutan, dan gaji karyawan. 


2. Biaya Varibel per Unit (Variabel Cost)

Biaya variabel per unit ini sangat bertolak belakang dengan biaya tetap karena besarnya biaya variabel per unit dipengaruhi oleh jumlah unit yang diproduksi. Contohnya seperti biaya pembelian bahan baku, biaya tagihan telepon, air, dan listrik.


3. Harga Jual per Unit (P) 

Harga jual per unit adalah harga yang ditentukan pebisnis terhadap masing-masing produk yang telah dihasilkan. Cara menentukannya adalah dengan menambahkan harga pokok dengan jumlah keuntungan yang diinginkan dari penjualan produk tersebut.


Rumus Menghitung BEP

Untuk dapat menghitung BEP, pebisnis harus memperhatikan dua hal yakni BEP unit dan BEP penjualan. BEP unit adalah menghitung seberapa banyak jumlah unit barang yang harus dikeluarkan untuk dapat diproduksi. Caranya yaitu total biaya tetap dibagi dengan harga jual kemudian dikurangi oleh harga variabel. Berikut adalah rumus untuk mendapatkan BEP unit.


BEP = Fixed cost  : (Harga Jual per Unit – Biaya Variabel per Unit)

Setelah itu, ada BEP penjualan yang harus dicari untuk mengetahui jumlah penjualan agar dapat menutupi BEP unit tadi. Untuk menghitungnya adalah dengan perumusan sebagai berikut.
BEP = Fixed cost : (1 – (Biaya Variabel per Unit : Harga Jual per Unit)
Itulah cara untuk menghitung BEP secara keseluruhan agar pebisnis dapat memperhatikan keuntungan dan kerugian dalam bisnis yang akan atau sedang dijalankan. Dengan begitu pebisnis dapat mempersiapkan sebelum mengalami kerugian dalam penjualan produknya. 

0 Response to "Cara Mudah Menghitung BEP (Break Even Point) Dengan Benar"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel